Minggu, 01 Januari 2012

sikap seorang menajer

Bapak Joko Atmojo, salah seorang manajer penjualan lapangan pada perusahaan PT.Logam Industri telah dipromosikan kekantor pusat dengan jabatan sebagai asisten manager produk. Untuk sekelompok produk yang relative ia belum kenal. Segera setelah ia memulai jabatannya yang baru ini, salah satu wakil Direktur utama perusahaan tersebut memanggil para manager produk dan staff lainnya untuk mengadakan sebuah rapat guna menyusun strategi-strategi pemasaran. Atasan Joko, yakni manager produk tidak dapat hadir dalam rapat itu. Sehingga Direktur pemasaran “Suhardiman”, mengundang Joko mengikuti rapat tersebut untuk membantu mengarahkannya pada jabatan atau pekerjaan Joko yang baru.

Oleh karena rapat dihadiri banyak orang, Suhardiman hanya secara sepintas memperkenalkan Joko kepada “Suharto”. Setelah rapat di mulai, Suharto seorang kawakan dengan reputasi kekasarannya, mulai mengajukan serangkaian pertanyaan yang menyelidik, yang hanya manager produk yang terbaik yang bias menjawab secara terinci. Tiba-tiba ia berbalik kepada Joko dan mulai menayai dengan cukup teliti tentang kelompok produknya. Agak membinggungkan, Joko mengakui bahwa ia benar-benar tidak tahu jawabannya.

Segera menjadi jelas bagi Suhardiman, bahwa Suharto lupa atau tidak memahami bahwa Joko masih baru dengan pekerjaannya dan mengikuti rapat tersebut agar memperoleh orientasi yang lebih jauh baginya. Ia hampir saja memberikan suatu penjelasaan yang berhati-hati ketika Suharto, nampak menjengkelkan dengan apa yang pada pendapatnya, merupakan tidak adanya persiapan dari Joko. Membentak “saudara baru saja, saudara lihat sebuah contoh pekerjaan staff yang jelek dan tiada maaf bagi pekerjaa seperti itu”.

Suhardiman harus mengambil keputusan. Pertama, ia dapat menyela suharto dan menyatakan bahwa Suharto telah secara tidak adil menilai Joko. Tetapi hal itu dapat memalukan bagi atasannya maupun bawahanya. Ada jalan lain, ia dapat menunggu setelah rapat selesai dan memberikan penjelasan secara pribadi. Sepanjang dengan cepat Suharto menjadi terpikat pada pembicaraan yang lain. Suhardiman mengikuti pendekatan kedua. Melirik kepada Joko, Suhardiman tahu bahwa wajah Joko tampak merah bercampur cemas.

Setelah berpandangan mata, suhardiman berkedip pada joko sebagai jaminan yang bijaksana, bahwa ia mengerti dan bahwa apa yang jelek dapat diperbaiki.

Satu jam kemudian, suharto terus terang tidak puas dengan apa yang diperolehnya disebut “perencanaan yang tidak memadai dari bagian penawaraan pada umumnya”. Dengan tiba-tiba mengatakan rapat selesai. Setelah itu, ia berbalik kepada suhardiman dan meminta agar Suhardiman tetap di tempat sebentar. Sama sekali tak diduga Suhardiman, Suharto dengan serta merta mengajukan pertanyaan tentang Joko kepadanya.

Suharto rupanya ingin menunjukan bahwa, ia mempunyai alasan yang kuat untuk meminta Suhardiman tidak keluar dahulu dari ruang rapat. Begitu katanya kepada Suhardiman, “saya ingin dengan sejujur-jujurnya, anda menjawab”, lanjut tanya.

“Apakah menurut anda, tadi saya terlalu kasar pada si bocah itu?”

Hening sejenak, lalu suhardiman berkata, “ya betul begitu”.

Saya ingin membicarakan hal itu dengan anda. Suharto lalu menjelaskan, bahwa kenyataan bahwa Joko baru dalam pekerjaannya tidak di tunjukkan dengan sebagaimana mestinya. Tak kala mereka diperkenalkan dan hanya beberapa lama setelah omelanya sendiri yang meledak-ledak itu, mulai berpikir.

Olehnya, bahwa apa yang telah dilakukannya itu tidak pantas, serta tidak adil. Ia lalu bertanya lagi kepada Suhardiman, “seberapa jauh anda mengenalnya? Apakah saya menyakitinya?”

Sejenak suhardiman memperhatikan air muka atasannya. Kemudian ia menjawab datar, “saya mengenalnya betul. Tapi, ya saya piker anda menyakitinya”.

Ah, masa bodoh. Itu tidak bias dimaafkan “kata suharto”.

Lalu ia menelpon seketarisnya untuk menghubungi dan meminta Joko segera melapor kekantornya. Beberapa saat kemudian Joko datang, tampak binggung serta gelisah. Begitu masuk, Suharto berdiri dari balik mejanya. Kemudian menemuinya diruangan tengah kantornya tersebut.

Sambil berhadap-hadapan dengan Joko yang baru berusia 20 tahun dan empat tingkat dibawah Suharto dalam organisasi itu. Suharto berkata, “begini, saya telah melakukan suatu ketololan dan saya ingin meminta maaf. Saya tidak punya hak untuk memperlakukan anda seperti itu. Seharusnya saya ingat, anda masih baru dalam pekerjaan anda, tapi saya lupa. Maafkan saya”.

Joko Atmojo binggung, ia berkomat-kamit terima kasih atas permintaan maaf itu. “selama anda disini, hai anak muda”, lanjut Suharto. Dihadapan bos dari bos anda, saya ingin menjelaskan beberapa hal kepada anda. Pekerjaan anda ialah memastikan bahwa orang seperti saya sendiri tidak akan mengambil keputusan yang jelek. Kami berpendapat bahwa anda memenuhi syarat untuk pekerjaan anda. Kalau tidak pasti, anda tidak akan kami bawa kesini. Tetapi untuk memahami pekerjaan apapun tentang produk-produk anda, “sambil mengulurkan tangannya lalu berjabat tangan dengan anak muda itu. Suharto berucap, “sepenuhnya saya percaya pada anda. Dan terima kasih atas kesediaan anda untuk memberikan kesempatan kepada saya guna memperbaiki suatu kesalahan yang betul-betul tolol.

Dari cerita diatas, pendapat yang dapat dilontarkan adalah :
pengaruh dari kejengkelan-kejengkelan Suharto yang ditunjukan pada rapat itu terhadap joko dan manager-manager lainnya. Adalah sikap Suharto dalam rapat terlihat otoriter. Dan menciptakan suasana yang panas dalam rapat. Dengan sikap seorang atasan yang seperti itu dapat memberikan pengaruh buruk bagi peserta rapat. Pengaruh bagi Joko Atmojo (asisten manajer produk) adalah akan timbul suatu trauma dan sulit untuk mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk kedepannya. Karena dia merasa kesalahannya, yang kurang menguasai produk-produk yang akan ditanganinya sudah fatal dan tidak dapat ditolerasi dan dia gagal memegang jabatan tersebut. Sedangkan bagi manager lainnya, mereka merasakan ketakutan untuk memberikan pendapat dalam forum seperti itu dan sulit (lambat) mengembangkan diri kedepannya. Tetapi, sikap Suharto tersebut tidak semuanya memberikan efek negatife terhadap para pekerjanya. Ini juga dapat membuat bahan introspeksi para pekerja dan menjadi latihan kerja dibawah tekanan. Tapi cara penyampaiannya suharto lah yang salah.



0 komentar:

Posting Komentar

 

it's my LIFE. Design By: SkinCorner